HEADLINE

Paket COD Karena Tak Sesuai Gambar, Pria di Pujut Ancam Kurir Ekspedisi dengan Golok

LOMBOK TENGAH — Sistem pembayaran Cash on Delivery (COD) atau bayar di tempat kembali memakan korban dari pihak kurir. Kali ini, sebuah insiden penolakan pembayaran paket yang diwarnai dengan aksi intimidasi dan pengancaman senjata tajam terjadi di Kecamatan Pujut, memicu perbincangan hangat dan kecaman dari netizen di berbagai platform media sosial.

Korban dari arogansi pelanggan ini adalah Budi Hartono (30), seorang kurir paruh waktu, sementara pelaku adalah seorang pria paruh baya berinisial MR (45) yang berprofesi sebagai petani. Kejadian miris ini berlangsung di halaman rumah pelaku yang berlokasi di pelosok Desa Pengengat, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, pada hari Jumat sore (15/5/2026) menjelang waktu magrib.

Pangkal masalah (Why) dalam insiden ini adalah kurangnya literasi dan pemahaman pembeli terhadap aturan belanja online sistem COD. MR selaku pembeli merasa kecewa karena sepasang sepatu bot yang dipesannya melalui sebuah aplikasi e-commerce terlihat berbeda ukuran dan warnanya dari gambar yang diiklankan. Karena merasa ditipu, ia melampiaskan kemarahannya kepada kurir yang dianggapnya bertanggung jawab penuh atas barang tersebut.

Kejadian berlangsung menegangkan (How) ketika Budi sang kurir menyerahkan paket tersebut. Belum sempat Budi menerima uang pembayaran seharga Rp 150.000, MR secara sepihak merobek kemasan paket. Melihat barang tak sesuai ekspektasi, MR langsung membuang sepatu tersebut ke tanah dan menolak keras membayar harga barang maupun ongkos kirim. Budi yang mencoba menjelaskan SOP bahwa kurir dilarang menerima barang yang sudah dibuka kemasannya, justru direspons dengan amarah yang meledak-ledak.

“Bapak itu masuk ke dalam rumah, lalu keluar membawa sebilah golok. Dia menunjuk-nunjuk wajah saya, mengancam akan membacok saya jika saya tidak segera pergi membawa kembali barang ‘sampah’ tersebut. Dia meneriaki saya penipu,” tutur Budi saat diwawancarai oleh rekan media di kantor cabang ekspedisinya, Sabtu (16/5/2026). Lantaran ketakutan akan keselamatan nyawanya, Budi memilih mengalah, mengemasi barang yang rusak itu, dan pergi meninggalkan lokasi dengan kerugian yang harus ia tanggung sendiri ke perusahaannya.

Insiden ini mendapat sorotan tajam dari Asosiasi Pekerja Logistik Nusa Tenggara Barat (NTB). Mereka menuntut perlindungan hukum yang lebih kuat bagi para kurir di lapangan. Sementara itu, video amatir yang diam-diam direkam oleh Budi menggunakan kamera helm (action cam) miliknya kini telah diserahkan ke pihak Polsek Pujut. Pihak kepolisian telah melayangkan surat pemanggilan kepada MR atas dugaan perbuatan tidak menyenangkan dan pengancaman menggunakan senjata tajam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *